Semua orang pasti pernah sakit hati. Dulu sekali, saya pernah marah, kecewa, bahkan benci gara-gara orang yang pernah dekat sama saya, tiba-tiba deket sama perempuan lain yang punya masalah sama saya. Nggak habis pikir, bisa-bisa nya orang yang dia gebet setelah saya itu orang macam itu. Dari, "Jadi saya ngga lebih baik dari cewek itu?" Sampai "Ya pantes deh dulu engga jadi sama dia, ternyata seleranya yang macam itu". Waktu liat mereka jalan, rasanya sebel, ngga rela, tapi saya sadar sepenuhnya kalau itu bukan urusan saya. Saya ngga ada hak buat marah apalagi cemburu. Akhirnya saya curhat sama salah satu teman. Waktu itu saya duduk bersebelahan sama dia.
"Kenapa ya Fad, kok aku gini. Kesel banget tau nggak?" tanya saya."Kamu tuh coba mikir dulu, coba diakui, kamu itu sakit hati dia tinggalin."Deg. Saya buru-buru mengkoreksi "Ye, siapa yang sakit hati? Udah lama ini, lagian juga udah ngga suka.""Nah, kan, tahap pertama itu, kamu harus nerima kalau kamu sebenarnya sakit hati, akuin dulu kalau kamu patah hati, gimana bisa ngelupain kalau kamu ngga mau menyadari" kata Fad, pelan tapi tepat sasaran.Kata berikutnya yang keluar dari mulut saya adalah "Aku pinjem pundak kamu ya?" lalu larut dalam tangisan lirih.
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu. Tapi sampai sekarang saya masih ingat, inti dari perkataan teman saya waktu itu. Kita harus mengakui dulu apa yang terjadi pada diri kita. Hal yang begitu sederhana tapi kadang kita terlalu sombong untuk menyadari kepentingannya. Menerima adalah kunci. Menerima kalau kita bisa (atau masih) sakit hati, menerima kalau kita tidak sempurna, menerima kalau kita tidak selalu kuat.
Tadi sore saya menghabiskan waktu dengan jalan-jalan iseng sama mba citra, diawali dengan menjemput mba citra di kampus fisipol, lalu parkir di basement amplaz. Setelah muter-muter mencari krim hair mask (yang gagal), akhirnya kami berhenti di KFC, makan sup krim dan minum mocha float. Setelah ngobrol ngalur-ngidul, akhirnya mulai saling bercerita tentang hubungan percintaan. Topik hubungan dengan mantan pacar pun muncul. Lalu ada satu poin yang mba citra bilang, "Mungkin karna kamu bisa ikhlas ya..." Ikhlas. Mungkin itu salah satu terjemahan dari 'menerima'. Kadang, 'masih sayang' bukan alasan untuk kita nggak suka sama pasangan mantan pacar kita. Bukan karna kita masih suka, tapi siapa sih yang bisa tahan liat orang yang nyakitin kita bahagia dengan orang lain? Jawabannya bisa jadi sangat sederhana, orang yang belum bisa menerima. Menerima kalau kita mungkin tidak lebih baik daripada orang pilihan mantan pacar kita, mungkin kita tidak lebih bisa memenuhi apa kriteria yang mantan pacar kita cari, atau mudahnya, menerima kalau memang kita tidak lebih bisa membuat mantan pacar kita bahagia.
Omongan teman saya dulu benar-benar saya pegang. Untuk memulai tahap selanjutnya, kita harus lebih dulu mengakui bahwa kita sakit. Bahwa kita tidak 'baik-baik saja'. Menerima bahwa orang ini pernah berarti buat kita. Selain itu kita juga harus bisa menerima, bahwa tidak selamanya kita bebas dari kekurangan dengan bermodalkan hati yang hancur. Setelah kita menerima dua hal itu, saatnya kita melepaskan. Melepaskan rasa sesal, melepaskan rasa sakit, melepaskan perasaan yang telah dihela. Akhirnya, terserah kita apakah memaafkan perlu dilakukan. Paling tidak, menurut saya, kita harus memaafkan diri sendiri.
Mba Citra juga bilang sesuatu tentang Karma. "Kenapa orang yang nyakitin kita malah engga dapet karma apa-apa?" Dari perkataan itu akhirnya kami merumuskan bahwa karma juga mempertimbangkan keikhlasan dan kerelaan. Satu hal tentang Karma yang saya pelajari dari seorang teman Buddhist, bahwa kita tidak pernah tau apa penyebab kemalangan yang kita terima saat ini. Karma tidak hadir dalam format apple to apple. Jika kita pernah menampar orang dua kali, belum tentu kita akan ditampar oleh orang lain sebanyak dua kali juga. Sekali lagi ini tentang menerima. Menerima karma sebagai pelajaran tentu lebih mudah ketimbang memandangnya sebagai hukuman. Mengakui ketidaksempurnaan juga salah satu cara memanusiakan diri.
"Terus aku harus gimana?" ujarku."Ya habis kamu ngakuin kamu patah hati, kamu baru bisa ngelupain." kata Fad yang tiba-tiba menjadi sangat bijaksana hari itu.

Have read this for times and put some words on the top of mind. *exhale*
ReplyDeletengga mudeng :3
ReplyDeleteYaudah kalo ketemu tak ceritain. Nggak jauh2 dari sakit hati dan ikhlas kok. :'3
ReplyDeleteaaaw awright :3
ReplyDeleteHaaaaaaaaaa dheaaaaaaaa...
ReplyDeleteaaa kenapa nisaaaaaa
ReplyDelete