CURRENTLY READING: Francis Grose's Superstitions: Omens, Charms, Cures 1787
Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Sunday, October 06, 2013

22nd

Started by Boyfriend call at midnight, wake up in the morning to flowers and friends, walked around the stores with boyfriend for my birthday present, ended by a surprise party by lover and friends at Danang's (with Dita playing happy-birthday song on background). Oh, and last birthday hug & kisses at night.
Firra, Bon, Pipit, B, Cisya's

Birthday present from A

Totally clueless

Another wishes made

Tuesday, May 28, 2013

Bathroom

Kamu pernah ingin bunuh diri?

Memotong urat nadi, lompat dari lantai dua pulu satu, minum arsenik, atau mencekik leher sendiri. Apa saja bisa, aku dengar ada yang bunuh diri dengan mengurung diri diruangan yang penuh dengan gas beracun. Ada-ada saja, ah aku ingat aku membacanya dari komik detektive conan (soal bunuh diri dengan mengurung diri diruangan penuh gas beracun) Kamu mungkin bertanya, kenapa ingin bunuh diri? Beberapa hari yang lalu aku iseng browsing tentang artis-artis korea. Bosan dengan usahaku membedakan wajah masing-masing anggota girl band (kata temanku bedanya yang satu lebih tinggi dari yang lainnya, persetan, toh mereka semua memakai high heels) aku malah mencari tau tentang fenomena artis dan orang-orang penting korea yang bunuh diri. Dari mantan presiden hingga anak pemilik perusahaan raksasa macam samsung. Dari pemain drama tv hingga model kelas dunia. Rata-rata penyebabnya karna tidak kuat menghadapi tekanan hidup. Ada yang ketahuan korupsi, ada yang dilarang berpacaran dengan lelaki pilihannya, ada yang muak dijadikan budak seks agensinya, ada juga yang merasa hidupnya tidak lagi berarti walaupun bergelimang harta dan ketenaran. Yah, tapi toh itu semua diketahui dari sisa-sisa surat yang ditinggalkan, atau penuturan orang (yang mengaku) terdekatnya.

Coba kau bayangkan, anak bungsu dari pemilik perusahaan raksasa macam samsung, sedang kuliah di New York, tinggal di apartemen pribadi di Aston, menjadi salah satu dari 5 wanita terkaya se-Korea (tiga dari empat sisanya adalah Ibu dan saudara perempuannya) lalu dikabarkan mengalami kecelakaan mobil dan meninggal. Orang tuanya lebih memilih untuk menyuruh juru bicara Samsung untuk memberi keterangan pers, sampai kemudian diketahui bahwa sebenarnya dia mati bunuh diri, di apartemennya, dini hari. Orang tuanya tidak datang dipemakamnnya yang bertempat di salah satu pemakaman di NewYork, karena di tradisi korea, orang tua tidak diperbolehkan datang ke pemakaman anaknya yang belum menikah. Kenapa si anak bungsu belum menikah saat kematiannya? Karna ayahnya melarangnya menikahi lelaki pilihannya. Tragis. Pantas film korea bisa sebegitu membiusnya, bahkan drama tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Ada lagi, artis cantik yang terakhir terlihat muncul di red carpet dan melakukan promo film barunya (yang kemudian tayang setelah dia meninggal) ditemukan bunuh diri di apartemennya, dengan meninggalkan berlembar-lembar surat. Isinya? Nama-nama orang yang telah menyiksanya selama dia bekerja di industri perfilman korea. Ada 30 nama, dan awalnya kepolisian sama sekali tidak bertindak. Setelah mantan manajernya membuat pengakuan ke publik yang kemudian menyeret nama direktur agensi (dimana artis tersebut bekerja) baru kemudian polisi mengusut kasus ini. Belakangan si manajer juga mencoba bunuh diri, karna takut menghadapi reaksi pers dan publik (serta tentu agensi nya) atas apa yang telah dia katakan.

Tau Karl Lagerfeld? Model korea satu ini pernah menjadi salah satu muse nya. Pernah menjadi cover majalah Vogue dan sejenisnya. Tampil anggun dengan rambut hitamnya, dan menawan setelah mengecat pirang rambut panjangnya. Penyebab bunuh dirinya tidak benar-benar aku ketahui. Tapi dari blog nya, kebanyakan bercerita tentang kesepiannya ditengah hingar bingar kehidupan jet set nya. Memilih Paris daripada Seoul, serta disinyalir suka menyakiti diri sendiri. Loneliness could really kill you huh?


"Kenapa ya, mereka memilih bunuh diri?"
"Karna kan orang sana ngga punya agama, jadi gampang aja bunuh diri"

I heard it somewhere, die is easy, life is difficult.


Kamu pernah ingin bunuh diri?

Aku pernah. Bukan karna putus asa, bukan karna disiksa sampai berpikir tak ada lagi jalan keluar, bukan karna kesepian sampai merasa tak ada lagi kegunaan untuk tetap hidup.

Lalu kenapa? Kamu tak takut mati lalu masuk neraka?

Takut mati? Semua orang pasti pernah di fase takut mati. Jadi bukan itu yang menjadi pertimbangan. Setelah mati, itu yang menjadi pendorong keinginan. Pernahkah kamu berpikir, apa jadinya duniamu tanpamu? Orang-orang terdekatmu, reaksi mereka, siapa akan bagaimana? Kamu mengerti maksudku?

Apa yang akan terjadi, saat kau benar-benar tidak ada, dan orang-orang macam apa yang akan benar-benar menangisimu sampai bertahun-tahun, atau yang hanya mengucap turut bersedih. Bagaimana reaksi orang-orang yang pernah mengecewakanmu, atau orang-orang yang begitu kau cintai tapi saat kau hidup lebih banyak menyia-nyiakanmu. Apakah mereka akan menyadari kekosongan hati mereka, atau hanya merasa kesepian sementara. Lalu apakah orang-orang yang memendam sesuatu darimu akan menyesal karna tak sempat mengaku, atau malah bersyukur tak harus bertemu lagi, selamanya. Kamu mungkin sekarang berpikir aku sudah gila. Bunuh diri itu dosa, berpikir untuk melakukannya juga tentu dilarang.


Kamu pernah ingin bunuh diri?
Atau memang sisi manusiamu telah mati? Tergantikan janji-janji surgawi, tertutup egoisme pembenaran atas kesalahanmu atas nama pendirian teguh.

Kalau kau tak kunjung menjawab, akan kuganti pertanyaannya.
Kamu pernah berpikir kalau kamu bisa saja menjadi alasan orang ingin bunuh diri?

Thursday, October 11, 2012

Long Scrap

Tau apa mereka tentang kebahagiaanmu?

Seorang ayah yang menahun menjadi pegawai, melarang anak gadisnya untuk menikahi seorang pengusaha. 
"Nanti hidup kamu susah, pengusaha itu tidak pasti pemasukannya."
Seorang ibu bersuamikan profesor ekonomi, melarang anaknya berpacaran dengan seniman yang kuliah disekolah seni.
"Seniman itu tidak jelas, belum tentu bisa berpenghasilan."
Seorang ayah yang waktu kuliahnya tidak banyak berkegiatan, melarang anaknya untuk keluar selain untuk kuliah. 
"Buat apa, cepat lulus dengan nilai cumlaude dan dapat beasiswa." 

Seseorang yang tinggal ditengah-tengah keluarga yang demokratis dan bebas, tak henti-hentinya mengkasihani orang lain, yang tidak bisa melawan atau menolak perintah orang tuanya yang mulai keterlaluan. 
"Kalau gue sih udah langsung gue bilang ngga dan gue tinggal aja."
Lain lagi dengan orang yang terbiasa hidup sulit, diam-diam membenci teman-temannya yang begitu mudah bepergian, mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. 
"Emang, gue ngga kayak lu-lu pada yang duitnya ga ada nomer serinya, gue ngga bisa temenan sama gaya hidup lu."
Tidak semua orang mau repot-repot memahami, bahwa ada bentuk kebahagiaan lain selain yang mereka tau. Bahwa ada halangan lain, selain yang mereka hadapi. Bahwa kenyataannya, tak selamanya kita diberi daya tahan dan daya serap yang sama. Untuk orang yang selalu berusaha melihat dari dua sisi, saya seringkali berdialog dengan diri sendiri. Mengurangi frekuensi saya menghakimi, karena tidak mudah menempelkan cap di hidup seseorang, hanya dengan pengetahuan yang saya punya.

Sangat wajar apabila si ayah yang pegawai, menganggap calon menantu yang berprofesi pengusaha tidak akan membuat anaknya bahagia. Karena sang ayah bukan pengusaha, dan hidupnya selama ini lebih dari cukup dengan menjadi pegawai. Sang ayah tidak mau repot-repot berpikir, bahwa ada bentuk kebahagiaan lain selain materi yang cukup dan penghasilan yang pasti. Maka, anaknya pun tidak akan bahagia jika tidak hidup seperti dirinya. Begitu juga sang ibu dan ayah yang lain. Hanya dengan menjadi seperti mereka, sukses, berkecukupan, dan hanya dengan jalan seperti mereka, orang lain bisa mencapai kebahagiaan.

Wajar pula jika seseorang yang seumur hidupnya tinggal bersama orang-orang yang mudah menerima dan mendengar, untuk mengkasihani orang lain yang seperti tidak berani memperjuangkan pendapatnya. Karena orang itu tidak pernah menghadapi orang tua yang sama dengan orang lain. Orang itu tidak sampai berpikir, bahwa ada tipe orang tua yang berbeda yang membentuk pribadi yang berbeda pula. Maka, tidak semua orang semudah itu mengeluarkan pendapat, tidak semudah itu orang menolak aturan. Sama seperti orang yang hidupnya sulit, memandang temen-temannya yang berbeda, lebih mudah untuk menolaknya, memandangnya sebagai hal yang buruk, ketimbang berusaha memahami, bahwa tidak semua orang punya kepekaan yang sama.

Seberapa besarkah waktu kita hanya untuk diam dan berpikir, kebahagiaan macam apa yang dipilih orang lain, sebelum kita mengeluarkan kata-kata hina? Tidakkah kita sadari, bahwa jalan termudah memberi kritik ketika kamu sudah diterima? Dan jalan untuk diterima, adalah dengan cara menerima dulu, bahwa ada bentuk lain dari yang kita jalani, yang kita ketahui.

Hidup lebih lama tidak selalu menjadikanmu lebih dapat merasa. Ilmu yang lebih tinggi tak menjaminmu lebih mengerti. Bahwa kerendahatian adalah kunci kecilmu untuk masuk ke kebahagiaan orang lain.




Cheers, D

Monday, January 24, 2011

Exactly


“I always feel this pressure of being a strong and independent icon of womanhood, and without making it look my whole life is revolving around some guy. But loving someone, and being loved means so much to me. We always make fun of it and stuff. But isn’t everything we do in life a way to be loved a little more?”

-Before Sunset

So true.

Monday, June 21, 2010

In The Mood of Love

I'm going to write in Bahasa (& English maybe) instead of English, no reason, I just want to. Maybe it will be easier for me to write in Bahasa AND English tee-hee.

So, here we go, here are some snapshot from last Saturday night. We went to a small caffe named "Peacock Caffe".

Photobucket
Photobucket
Photobucket

Kenapa menunya ditulis di dinding? Karena eh karena, disini kalo mau pesen, langsung ke kasir, bilang pesanannya apa, trus langsung bayar. Nanti kalo pesenan kita jadi, kita ngambil sendiri di meja samping kasir. Disitu udah tersedia gula, sedotan, dll. Self service istilahnya, jadi inget waktu di Korea, semua kita yang melakukan sendiri, sampe buang sampah bekas pesanan kita. Kalau di Peacock Cafe ini sih, belum sampai ke buang sampah dan menaruh gelas-gelas kosong sendiri sih, mungkin besok-besok kalau cara begini sudah umum dilakukan di caffe-caffe, bisa terwujud juga self service yang tertib :D

Photobucket
Photobucket

Konsep ini bagus juga lho, selain praktis, banyak juga penghematan yang dilakukan. Dengan tidak ada menu yang tertulis di kertas, kita sudah menghemat penggunaan kertas. Begitu juga dengan mengambil gula dan sedotan sendiri. Kita jadi gak akan iseng ngebuang-buang gula atau mainan sedotan. Simpel dan hemat :)

Photobucket


Tempatnya termasuk kecil & agak sempit untuk ukuran caffe-caffe di Jogja. FYI, caffe ini terletak di dalam hotel Mustokoweni, di bagian lobby nya. Interiornya pun mengikuti konsep hotel itu, unique dan sekali lagi, simpel. Tapi jangan khawatir, rame-rame juga bisa kok dateng kesini. Di luar juga ada beberapa meja yang bisa dipake.

Photobucket
Photobucket

Minuman yang dijual disini engga jauh beda dari menu-menu yang ditawarkan di caffe kebanyakan. Tapi rasanya jauh lebih enak dari yang dijual di caffe-caffe yang memasang harga sepantaran. Minuman favorit sejauh ini...... belum ada. Belum nyoba semua sih, tapi dari dua yang sudah dicoba, enak semua, hehe :D Kalau si Pipit sih jatuh cinta sama White Mint, campuran susu dan mint. Untuk snack nya favorit saya sejauh ini jatuh pada Apple Pie nya! :D

Photobucket
Photobucket

Daaaaan ini nih yang bikin saya dan Pipit jatuh cinta tiba-tiba, live music nya! Mungkin karna malam minggu, malam itu ada dua orang yang menghibur pengunjung dengan bebrapa lagu jazz manca dan beberapa lagu indo lawas. Penyanyi nya cantik dan bersuara bagus, seorang lagi pemain piano (ada piano kecil di lobby hotel yang bisa dipakai) pria. Baguuus banget, kebetulan lagi, playlist nya sama dengan playlist di iTunes, hehe :) Salah seorang pengunjung kemudian ikut menyanyi diiringi mas pemain piano. Lagi-lagi mba cantik bersuara bagus. :)




Photobucket

Perbincangan bersama Pipit pasti berakhir menyenangkan. We had such a nice conversation, we talk about relationship, life, decision, sex, love, music, thought, no boundaries. We share everything even silent :) Pipit is such an introvert girl, dia engga sering curhat (beda banget sama saya hehe) dan jarang bicara tentang apa yang dia pikirkan ke banyak orang. Di tengah-tengah perbincangan kita tentang pasangan dan hubungan, tiba-tiba dia bilang "Tuuh kaan, kalo sama kamu tuh aku bisa ngomong macem-macem!" Hehe, me too Pit, saya juga selalu menikmati sesi berdiskusi dengan sahabat saya yang kuliah di fakultas sebelah ini. We've been friends for last 3 years, tapi kok kita bisa nyambung untuk hal-hal yang saya sendiri kadang sulit mengutarakannya, seems like we've been friends for 10 years or even more :) Kita memang nyambung, tapi bukan berarti berpendapat sama. Kalau kata Pipit, ibarat Thesisnya sama, tapi metode nya beda. Ah dasar anak komunikasi, ada aja bahasanya :D


Even more, she's my favorite model, dan emang dasarnya sudah hapal sama saya yang kalau motret suka tiba-tiba dan sering minta ulang, dia sabar-sabar aja jadi model saya sepanjang ngobrol dan mendengarkan live music. Malam itu kita sama-sama sedang merasa jatuh cinta. Tanpa tau dengan siapa dan karena apa. The atmosphere was full of love. We were in the mood of love, we listened to the love songs, talk about lovely thing, with the people we love, such a lovely Saturday night.

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket




Spread the love, people, have a nice day, and since I can't discovered what love is, (yet, maybe), just be happy. Do something that make you happy, decide something that make you feels good. Be happy first before spread the happiness to the others. Xx